Eksperimen Joule (Hanif Nur Rozaq/ 16630009)
EKSPERIMEN
JOULE
Oleh: Hanif
Nur Rozaq
Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang
Agniyanurrozaq20gmail.com
Abstrak: Salah satu asumsi dasar dari Kinetic Theory
of Gases adalah bahwa tidak ada atraksi antara molekul dari gas. Ideal gas
dapat dianggap sebagai satu yang akan digunakan adalah molekular atraksi
diabaikan. Percobaan Joule merupakan cikal bakal adanya Hukum Pertama
Termodinamika yang berbunyi energy dalam suatu system besarnya tetap kecuali
jika diubah dengan melakukan kerja atau dengan adanya pemanasan. Hukum
termodinamika pertama diterapkan pula oleh Joule dengan menghubungkan dua
bejana untuk menentukan kesetaraan energy keduanya.
Kata Kunci: Hukum
termodinamika I, Kalor, Usaha, Eksperimen Joule
Dasar Teori
Energi internal system merupakan jumlah total
semua energy molekul dalam system. Energi internal system akan meningkat jika usaha yang
dikerjakan oleh system atau jika kalor ditambahkan padanya. Demikian pula
energy internal akan berkuang jika kalor mengalir keluar dari system atau jika usaha
dilakukan oleh system terhadap suatu benda yang ada disekitarnya. Peubahan
energy internal merupakan sebuah system tertutup, atau ∆U yang nilainya akan
sama dengan energy yang ditambahkan ke system melalui pemanasan ditambah dengan
usaha yang dilakukan oleh system pada sekelilingnya. Dalam bentuk persamaan
kita dapat menuliskannya( Giancolli, 2014).
∆U= Q +W
Di mana Q adalah kalor neto yang ditambahkan
pada system dan W adalah usaha neto yang dilakukan oleh system. Persamaan 1
dikenal sebagai hukum termodinamika pertama.
Bunyi dari hukum termodinamika
pertama yaitu(Atkins, 1990):
“Energi dalam
(entalpi) suatu system besarnya tetap kecuali jika diubah dengan melakukan
kerja atau dengan pemanasan”.
Hukum ini merupakan salah satu
hukum penerapan dalam bidang fisika yang hebat dan validitasnya bergantung pada
eksperimen (seperti eksperimen joule) dimana tidak ada perkecualian pernah
terlihat. Karena Q dan W mempresentasikan energy yang dipindahkan ke dalam atau
hukum termodinamika pertama merupakan pernyataan yang hebat dan luas jika
dikaitkan dengan hukum konservasi energy(Giancolli, 2011).
Terdapat integrasi dalam al- Qur’an yang dikiaskan dengan hukum
termodinamika 1 berkaitan dengan penambahan kerja berupa pemanasan, yaitu pada
Surah an- Nahl ayat 13 yang berbunyi:
وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ
فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ
يَذَّكَّرُونَ
(١٣:
النحل)
Artinya: “dan (Dia juga
mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis
dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (Q.S an- Nahl ayat 13).
Dalam ayat diatas disebutkan bahwa Allah
menciptakan untuk manusia di bumi dengan berbagai macam baik warna dan jenis
agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya. Ayat ini dapat dikiaskan bahwa
Allah menciptakan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh manusia akan tetapi
masih bisa dirasakan contohnya adalah kalor atau panas. Allah menciptakan kalor
atau panas yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup maupun untuk kepentingan
sains agar manusia dapat mengambil suatu hikmah dari penciptaan kalor atau
panas.
James Prescott Joule, seorang ilmuan Inggris
yang namanya diabadikan dalam satuan Joule lahir di Salford, Lancashire,
Inggris pada tanggal 24 Desember 1818. Joule merumuskan hukum kekekalan energy
yaitu “energy tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan”.(Moran,2007).
Joule melakukan beberapa percobaan yang
terkenal dan pada akhirnya beliau merumuskan adanya hukum termodinamika pertama
satu diantaranya yaitu sebuah percobaan yang tidak akan melibatkan arus
listrik. Peralatannya hanya terdiri dari
roda jantera kuningan yang memutar air di dalam wadah tembaga. Ketika jatuh,
beban tadi memiliki energy mekanis atau gerak. Joule menjatuhkan beban tadi
berkali- kali. Jumlah kenaikannya bergantung pada jarak beban yang dijatuhkan.
Hal ini membuktikan bahwa energy gerak beban juga bisa diperoleh dengan
memanaskan air diatas kompor. Joule menentukan bahwa sejuamlah kerja tertentu
yang dilakukan selalu ekivalen dengan sejumlah masukn kalor tertentu. Joule
menghubungkan kalor dengan usaha yaitu(Kaufman,2002):
a.
Kalor merupakan suatu bentuk energy
yang dapat berpindah dari lingkungan ke suatu system atau sebaliknya karena ada
perbedaan suhu antara suatu system dengan lingkungannya tanpa pengaruh dari
luar, kalor akan selalu berpindah dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah.
b.
Usaha juga merupakan suatu bentuk
perpindahan energy melalui gaya yang dilakukan system pada lingkungan atau
sebaliknya dimana titik tangkap gaya mengalami perpindahan.
Pada percobaan
Joule tersebut terjadi kenaikan suhu air yang dapat disebabkan oleh adanya
aliran kalor akibat usaha yang dilakukan. Perubahan suhu air tentu akan
menyebabkan perubahan energy kinetic partikel- partikel air dan pada akhirnya
akan mengakibatkan perubahan energy dalam air(Kaufman,2002).
Selain itu,
pada tahun 1834 Joule melakukan eksperimen untuk menentukan ketergantungan
perubahan energy internal tehadap perubahan volume
melalui pengukuran temperature(Fatimah, 2015 ).James
Joule berpendapat ia dapat mengukur dengan mengamati perubahan temperature gas jika gas itu dibiarkan memuai ke ruang hampa udara(Atkins, 2014). Eksperimen ini diulangi oleh Keynes dan Sears pada tahun 1924 dengan skema kerja sebagaimana gambar 1. Alat ini terdiri dari dua bejana yaitu bejana A dan bejana B yabg ditempatkan pada tempat adiabatic. Pada awalnya bejana A diisi dengan gas dan bejana B dibuat dalam keadaan vakum. Jika katub antara kedua bejana dibuka maka akan terjadi aliran gas dari A ke B sehingga mencapai kesetimbangan. Perubahan temperature pada perubahan kesetimbangan ini dapat diukur(Fatimah, 2015 ).
Oleh karena
kedua system dilindungi oleh keadaan adiabatic maka nilai
artinya tidak ada panas yang keluar dari
system serta aliran dari A ke B bersifat irreversible. Kedua system berada dengan
volume masing- masing bejana tetap dan tidak ada perubahan tekanan dari luar
system sehingga perubahan kerja juga nol(Fatimah, 2015 ).
Gambar 1.
Skema eksperimen Joule (Fatimah, 2015)
Secara keseluruhan,
Sehingga dapat diartikan bahwa proses adalah berada pada energy konstan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa eksperimen mempengaruhi perubahan temperature pada perubahan volume dengan kondisi internal konstan. Tetapan perubahan temperature seiring dengan perubahan volume kemudian sering disebut dengan koefisien Joule- Thomson (Fatimah, 2015 ):
Perubahan
energy internal merupakan fungsi keadaan sehingga merupakan deferensial eksak. Sebagai
diferensal eksak, perubahan energy internal seiring dengan perubahan volume dan
perubahan temperature dapat dinyakan dalam turunan parsial(Fatimah, 2015 ):
Oleh karena
seting peralatan yang minim sehingga disimpulkan bahwa
sangat kecil dan tidak sama dengan nol. Pada tahun 1853 John dan William Thomson melakukan eksperimen serupa dengan Joule tetapi dengan akurasi yang lebih baik(Fatimah, 2015).
sangat kecil dan tidak sama dengan nol. Pada tahun 1853 John dan William Thomson melakukan eksperimen serupa dengan Joule tetapi dengan akurasi yang lebih baik(Fatimah, 2015).
Terdapat masalah dengan eksperimen Joule dalam
praktiknya yaitu meskipun memungkinkan mengisolasi
bejana yang mengandung gas, bejana itu sendiri dan suhu yang ada dalam benjana
akan menarik perangkat yang akan dipanaskan dengan menggunakan gas, hal
tersebut sangat mengurangi perubahan
suhu yang teramati, karena koefisien Joule bernilai nol untuk gas ideal. Akan
tetapi dapat menjadi kecil untuk gas nyata. Joule tidak mengamati perubahan
suhu saat dia melakukan eksperimen di tahun 1840an. Kemudian, pengukuran yang
lebih hati-hati memberi hasil yang bisa diamati, namun dengan sedikit
presisi. Eksperimen ini setara dengan eksperimen Boyle yang menggali sifat
pembatas yang penting yaitu sifat gas sempurna tanpa menemukan penyimpangan
kecil yang merupakan sifat gas nyata(Atkins, 2014).
Kesimpulan
Hukum pertama termodinamika merupakan salah
satu hukum penerapan dalam bidang fisika yang validitasnya bergantung pada
eksperimen (seperti eksperimen joule). Eksperimen Joule meliputi dua aspek,
aspek pertama yaitu Joule menghubungkan kenaikan suhu akibat dari usaha yang
dilakukan sehingga berakibat perubahan energy kinetic partikel- partikel air
dan mengakibatkan perubahan energy dalam air. Aspek kedua yaitu pengisolasian
dua bejana yang satu diberi tekanan dan yang satu dibuat hampa udara. Jika
katub yang memisahkan kedua bejana dibuka maka akan terjadi kesetimbangan yang
dapat diukur. Akan tetapi terdapat kelemahan dari eksperimen Joule ini yaitu
kapasitas kalor bejana sangat besar yang mengakibatkan perubahan suhu gas nyata
sulit diukur.
Daftar Pustaka
Atkins, P. W. 1990. Kimia Fisika
Jilid I Edisi Keempat. Diterjemahkan oleh: Irma I. Kartohadiprodjo.
Jakarta: Erlangga.
Fatimah, Is. 2015. Kimia Fisika Edisi I
Cetakan I. Yogyakarta. Deepublish.
Giancolli, C Douglas.2014. Fisika: Prinsip dan Aplikasi
Edisi Ke Tujuh Jilid I. Diterjemahkan oleh: Irzam
Ardiansyah. Jakarta: Erlangga.
Kaufman, Myron. 2002. Principles of
Thermodynamics. New York: Marcel Dekker, Inc.
Moran, Michael J. 2007.
Termodinamika Teknik Jilid 2. Diterjemahkan oleh: Yulianto Sulistyo Nugroho.
Jakarta: Erlangga.










0 komentar :
Posting Komentar