Aplikasi Efek Joule Thomson ( Uzlivatul Jamillah/ 16630039)

Aplikasi Efek Joule Thomson ( Uzlivatul Jamillah/ 16630039)







APLIKASI EFEK JOULE THOMSON
GEROBAK PENDINGIN
Uzlivatul Jamilah
uzlivajamilah98@gmail.com
Dalam gerobak berpendingin ini terdiri dari dua unit atau komponen utama, yaitu unit daya dan unit refrigrasi. Di unit daya, gerobak menggunakan accumulator sebagai sumber energi untuk memberikan energi saat penggunaan refrigerator dengan menggunakan inverter maka dalam penggunaannya dapat di charger dalam kondisi tidak tersambung dengan arus PLN. Accumulator yang digunakan yaitu 12 volt sebanyak 2 buah dengan dibantu menggunakan inverter arus AC, accumulator tersebut mampu untuk diberikan beban daya 80 A Kemudian di unit refrigrasi, gerobak menggunakan refrigrator untuk merekayasa termal dalam gerobak sehingga suhu dapat disesuaikan dengan suhu rata-rata normal produk.
Perlunya memperhatikan rancangan struktural ini agar alat dapat bekerja maupun digunakan secara optimal. Pemilihan desain konstruksi alat dan pemilihan bahan untuk pembuatan alat seperti besi siku dilakukan agar alat lebih kokoh dan kuat. Selain itu menggunakan atap fiber karena dimasudkan supaya tahan karat dan mudah dibersihkan, kemudian pada penggunaan kaca penutup ukuran 7 mm supaya tahan getaran dan memiliki jarak tembus sinar matahari yang cukup kecil sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap suhu dalam ruang pendingin.
                           
Mekanisme Kerja Alat Gerobak pendingin ini memperoleh sumber energi dari accumulator, kemudian dari pembangkit daya ini menghidupkan refrigrator untuk mendinginkan ruangan. Suhu di atur menggunakan termokopel atau sensor suhu agar suhu di dalam gerobak konstan.
Alat ini cukup potensial dikembangkan untuk menjadi suatu usaha baru atau inovasi usaha bagi para penjual sayur dan buah. kebutuhan masyarakat yang meningkat dan berbanding terbalik dengan kualitas, usaha dengan menggunakan alat ini akan cukup optimal dalam pemasaran produk kualitas supermarket di jalanan.  Dengan penggunaan alat tersebut, yaitu produk menjadi lebih segar, terhindar dari debu, lebih higienis, dan terhindar dari lalat.
Pengaturan suhu yang baik merupakan cara yang efektif untuk menurunkan tingkat kehilangan hasil dan mempertahankan kualitas buah-buahan dan sayur-sayuran. Suhu yang rendah, tetapi tidak terlalu  rendah, dapat menyebabkan terjadinya penurunan aktivitas fisiologi sehingga buah menjadi rusak. Suhu yang rendah juga menurunkan laju pertumbuhan mikroba dan laju pembusukan. Pendinginan merupakan cara yang efektif untuk menjaga kualitas buah-buahan dan sayur-sayuran. Terdapat berbagai metode pendinginan yang digunakan, antara lain adalah kamar pendingin (room cooling), udara pendingin yang bertekanan (forced-air cooling),  air pendingin (hydrocooling), pendingin dengan ruangan hampa (vacuum colling), dan pengemasan dengan lapisan es (package icing). Namun selain sistem pendingin di atas, terdapat juga pendinginan yang biasa digunakan untuk membekukan ice cream, yaitu karbondioksida padat atau kriogenik. Kriogenik ini dapat menghasilkan suhu hingga -40oC. Prinsip kerja proses kriogenik adalah pemanfaatan energi pribadi gas umpan berdasarkan efek Joule Thomson. Proses kriogenik ini berlangsung dalam suatu peralatan yang disebut  cold box. Di dalam cold box  ini berisi alat penukar panas dan separator  yang diisolasi dengan  perlite ( S Bagijo, Junaedi, Azhari, 2010).
Penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran segar dapat memperpanjang daya gunanya dan dalam keadaan tertentu dapat memperbaiki mutunya. Tujuan utama penyimpanan adalah pengendalian laju transpirasi, respirasi, infeksi penyakit, dan mempertahankan produk dalam bentuk yang paling berguna bagi konsumen (Pantastico, 1986). Penyimpanan sayuran yang tepat sangat diperlukan agar sayuran dan buah-buahan tetap berkualitas, baik penampilan fisik maupun kandungan gizinya. Selama penyimpanan sayuran akan mengalami berbagai perubahan yang disebabkan oleh faktor dari dalam sayuran itu sendiri dan kondisi penyimpanannya. Faktor suhu dan kelembaban sangat berpengaruh pada proses penyimpanan. Penyimpanan sayuran pada suhu 5-8 0C seperti pada lemari es dapat menghambat kegiatan respirasi dan metabolisme sayuran, proses penuaan, kehilangan air dan pelayuan, kerusakan oleh bakteri dan kapang, serta proses pertumbuhan yang tidak dikehendaki seperti pertunasan pada kentang (Novary 1999). Proses penyimpanan dengan udara terkendali merupakan pembaharuan yang paling penting dalam penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran sejak penggunaan pendinginan mekanik. Cara ini bila dikombinasikan dengan pendinginan, dengan nyata menghambat kegiatan respirasi, dan dapat menunda pelunakan, penguningan, perubahan-perubahan mutu, dan prosesproses penguraian lainnya dengan mempertahankan atmosfer yang mengandung lebih banyak CO2 dengan lebih sedikit O2 daripada dalam udara biasa. Penyimpanan dalam suhu rendah juga dapat memperpanjang umur simpan, karena dapat menurunkan respirasi, memperkecil transpirasi, dan menghambat perkembangan mikroba (Darsana 2003).

Mesin refrigerasi Joule Thomson (J-T) saat ini sedang dikembangkan untuk aplikasi kriogenik menggantikan sistem refrigerasi Linde. Refrigerasi linde bekerja dengan prinsip bahwa di bawah temperature inversinya, gas mendingin pada pemuaian. Dengan demikian sangatlah penting untuk mengetahui kondisi-kondisi di mana ยต positif: hal ini digambarkan untuk tiga jenis gas (Atkins,P.W. 1996).


                                  Gambar 2. Tanda Koefisien Joule Thomson
            Sesudah sumbat berpori, temperature turun sampai di bawah temperature pengembunan, dan terbentuk cairan.
Mesin refrigerasi Joule-Thomson (J-T) adalah  salah satu jenis dari beberapa macam  mesin refrigerasi bertemperatur sangat rendah dan lainlain, mesin refrigerasi  J-T dapat mencapai suhu lebih rendah sampai di bawah – 60oC (Sumeru, Tandi, 2009). Pada mesin refrigerasi J-T, yang terdiri dari komponen-komponen : kompresor, aftercooler, penukar kalor (counterflow heat exchanger), katup ekspansi dan evaporator, COP-nya tergantung dari efektifitas dari penukar kalor dan tekanan refrigeran di dalam sistem (Xue at. al, 2001). Salah satu komponen penting di dalam mesin refrigerasi J-T adalah alat penukar kalor (heat exchanger), berupa koil pipa helical, dimana terjadi transfer kalor di antara fluida berbeda temperatur yang mengalir dari bagian aftercooler dan dari evaporator. Pada Gambar 3 terlihat diagram sistem refrigerasi Joule- Thomson. 







Mesin refrigerator yang digunakan adalah lemari es untuk pendinginan. Pendingin atau refrigerator yang umumnya berdiri tegak pada alat ini dibuat tidur atau horisontal. Hal ini juga membuat ada sedikit modifikasi pada mesin pendingin dengan mengubah posisi kompresor supaya tetap tegak lurus. Penambahan perangkat daya untuk menjalankan lemari pendingin ini pun sudah diberikan yaitu dengan 2 perangkat  accumulator 12 V dan seperangkat inverter 1000 VA.


Pada Gambar 4, terlihat perbedaan sistem refrigerasi Linde dan Joule Thomson, dimana kelebihan sistem  refrigerasi J-T adalah tekanan kerjanya lebih rendah. 




              Penukar kalor pipa helical juga dapat ditemukan di dalam banyak aplikasi lain seperti pada : pemrosesan makanan, reaktor nuklir, pemanfaatan panas terbuang (heat recovery system), proses kimia dan lain-lain. Koil pipa helical cocok untuk berbagai proses seperti penukar kalor dan reaktor, karena ia dapat berperan dengan baik sebagai pemindah kalor yang cukup besar dalam ruang yang kecil. Karena perannya yang cukup banyak di dalam berbagai aplikasi, maka kajian tentang karakteristik efektifitas dan perpindahan  kalor di dalam heat exchanger menjadi hal yang sangat penting untuk diteliti.  Prestasi kerja sistem refrigerasi J-T sangat tergantung dari karakteristik perpindahan kalor di dalam heat exchanger dengan ditandai oleh kecepatan pencapaian temperatur, temperatur rendah dan lama operasi (Yong-Ju Hong, at al.,2009).  


                             
                                Gambar 5. Gerobak pendingin






DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.
Darsana, Linayanti dkk. 2003. Pengaruh Saat Panen dan Suhu Penyimpanan terhadap Umur Simpan dan Kualitas Mentimun Jepang (Cucumis Sativus L.). Agrosains : Volume 5 No. 1.
Hong,Yong-Ju, Seong-Je Park, and Young-Don Choi, 2009. A Numerical Study of the Performance of a Heat Exchanger for a Miniature Joule-Thomson Refrigerator. International Cryocooler Conference, Boulder, CO. Hal 379-386
Novary, Eti Widayanti. 1999. Penanganan dan Pengolahan Sayurann Segar. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Pantastico, Er.B. et al. 1986. Fisiologi Pasca Panen Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
S, Bagijo Budi, Junaedi, Azhari, K.A Fahmi. 2010. Penggantian Purge Gas Recovery Unit Pabrik Amoniak Pusri IV dengan Teknologi Membran. Seminar Rekayasa Kimia dan Proses; 4-5 Agustus 2010; Semarang. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Hal: 13.
Sumeru, Tandi S. 2009. Analisis Pengujian Mesin Pendingin Joule-Thomson Temperatur Rendah Menggunakan Refrigeran Binary Mixture. Jurnal RACE, Jurnal Refrigerasi, Tata Udara            dan Energi, Politeknik Negeri Bandung. Vol.3 No.3,Nov. Hal: 367-375.
Xue, H., K.C. Ng, J.B. Wang, 2001. Performance evaluation of recuperative heat exchanger in a miniature Joule-Thomson cooler. Applied Thermal Engineering 21, 1829 – 1844.

0 komentar :

Posting Komentar